Sabtu, Mei 13, 2017

Dilemma Dewasa Muda (yang Paling Klasik): S2 atau Kerja?

I never thought growing up adult would be this tough.
Even for me, who love to plan and prepare myself for every thing.
Funny how, back then, I couldn't wait to be an adult for I thought I'd be so stable and mature.
Funny how, right now, I see myself as the same old teen with a more complicated mind..

*sigh*

Anyway. Hi again. Sedih ya, tahun sudah lama berganti dan saya baru nulis lagi. Maklum, udah bukan pengangguran lagi.. (jumawa ah, padahal mah as always making excuse aja)
Sibuk S2? Kerja? Atau berumah tangga? Ya kali yang disebut terakhir. Hahaha.

As I said in my previous post, masa post-bachelor bener-bener babak baru yang penuh dilemma. So now I can say that life IS getting real. I don't mean to say that masa-masa sekolah dan menjalani kehidupan sebagai remaja itu mudah, sama halnya dengan masa-masa kuliah yang seringkali stressful dan penuh perintilan organisasi. But this is different. Making choices in life akan selalu jadi pembelajaran, yet satu aja keputusan yang diambil di tahap ini bisa berdampak jauh ke masa depan.

Back then in my college life (or ever since I was still in high school I guess), saya selalu bilang setelah lulus kuliah saya mau S2. I basically love studying, and I grew up being told that I would follow my dad's path and become a lecturer. Till I came to the point where I started to question myself whether that was what I really wanted, or I just believed in what I'd always been told..

Hal ini sebenarnya salah satu hal yang bikin saya maju-mundur untuk mengurus beasiswa dan preparing untuk S2. Some people are lucky enough to have that privilege buat kuliah lanjutan tanpa harus memusingkan biaya atau kewajiban mencari uang. Tanpa harus memusingkan after getting master degree, then what? Atau untuk bisa berkata bahwa sekolah ya untuk mencari ilmu, aplikasinya bisa ke mana aja dan liat nanti aja. Tapi buat saya yang sangat mengandalkan beasiswa kalau memang mau lanjut sekolah, studi apa yang mau saya ambil dan apa yang akan saya lakukan dengan gelar yang saya punya setelahnya tentu jadi hal krusial.

Thing is, the clock is ticking. Saya sadar, mengurus beasiswa bukan hal yang prosesnya cuma sebulan dua bulan, dan nggak ada jaminan saya bisa langsung dapat di percobaan pertama. Jadi saya pikir paralel aja, sambil menyiapkan S2 sambil lihat-lihat lowongan kerja. Proses seleksi kerja yang saya ikuti dengan serius juga nggak banyak, cuma Danone MT STAR, PCPM BI, dan HC Trainee Astra International.

Danone MT STAR adalah pengalaman pertama saya ikut seleksi kerja. Pendaftarannya kalau nggak salah dibuka September lalu. Rangkaian tes yang saya ikuti waktu itu adalah online application dan assesstment, written interview, LGD, dan HR interview. Udah mentok segitu. Hahaha ya iyalah, siapa juga yang mau nge-hire kandidat yang bilang dengan polos dan jujurnya kalau mau lanjut S2 dalam waktu dekat..☺ Maklum ya, namanya juga pertama. Untungnya saya memang coba-coba daftar aja jadi memang nothing to lose.

Selanjutnya, saya datang ke job fair UI bareng Hitta buat "nyebar CV", where Astra was salah satu company yang buka stand di sana (walau ujung-ujungnya daftarnya tetap online sih di Astra Virtue). Saya sering denger dari senior-senior saya kalau Astra adalah salah satu company yang oke untuk membangun karir dan terkenal karena development SDM-nya. Supervisor saya waktu magang juga pernah menyarankan saya untuk apply ke Astra selepas lulus kuliah untuk alasan yang sama, walau saya belum cari tahu lebih lanjut tentang Astra.

Pas daftar inilah, saya baru tahu kalau Astra Group adalah korporasi raksasa dengan tujuh lini bisnis: automotif, financial service, agribisnis, mining and heavy equipment, infrastruktur dan logistik, IT, dan yang terbaru adalah properti. PT Astra Internasional, Tbk sendiri berperan sebagai holding company dengan aff-co (anak perusahaan) yang jumlahnya lebih dari 200 perusahaan. Di Astra Virtue kita diperbolehkan untuk apply ke tiga lowongan yang dibuka di berbagai perusahaan yang termasuk ke dalam Astra Group. Honestly saya nggak inget daftar apa aja, tapi pilihan pertama saya adalah HC Trainee PT Astra International, Tbk.

Tahapan seleksi di Astra terdiri dari online application, psikotes, FGD, presentasi + HR interview, dan yang terakhir adalah panel interview sebelum masuk ke offering, med-check, dan sign kontrak. Psikotes di Astra, I can say, is my favorite (saya emang suka ngerjain psikotes btw, hehe). Astra punya alat ukur sendiri yang menurut saya beda dari psikotes-psikotes lainnya yang ngebosenin. Tesnya terdiri dari aptitude dan personality test. I'm not gonna tell you in detail about the selection phase (or maybe in another post kalau ada request, lol), tapi yang bikin saya wondering apakah saya memang disuruh Allah kerja dulu adalah karena yang saya rasakan ketika selesai interview HR di Astra sama persis dengan perasaan saya waktu dulu keluar ruangan selepas interview kepribadian AFS.. maybe that was such a sign, I don't know. But then saya nyeplos dalam hati, "kalau memang keterima mungkin jalannya harus kerja dulu.."

Seleksi PCPM BI dibuka waktu saya sudah mulai proses seleksi di Astra. Yah, siapa sih yang nggak mau daftar BI (dan orangtua mana yang nggak nyuruh anaknya daftar BI wkwk). Mungkin cuma sebagian kecil. Jujur, saya coba-coba dengan tahu diri namun susah juga buat nggak berharap. Bukan semata karena gaji ataupun fasilitas, tapi saya ingin sekali bekerja di tempat yang juga mendukung kelanjutan studi saya (tetep yes). Tahapan yang saya ikuti dari PCPM BI adalah seleksi administrasi, seleksi potensi dasar, tes kebanksentralan, isu ekonomi terkini, dan Bahasa Inggris, dan berhenti di psikotes tertulis, LGD, dan interview kepribadian (wasn't sad but half disappointed, half annoyed with many people didn't seem to believe that I didn't pass through. kan aneh sayanya aja nggak pede-pede amat). Kalau ngutip kata-katanya temen saya Afi sih, "Kita terlalu rebel buat institusi macem BI" hahaha.


Singkat cerita, I got an email from Astra yang menyatakan saya lolos interview panel direksi just minutes sebelum saya presentasi di konferensi awal November lalu. Alhamdulillah. But it's kinda paradox to feel great to receive that congratulatory email, while sepanjang konferensi rasanya saya sedih karena rindu sekali kuliah dan ingin sekali cepat-cepat apply S2.. kegamangan pun makin menjadi-jadi.

Buth then setelah ngobrol dan diskusi dengan banyak orang, finally, bismillah.. I signed the contract. Agree untuk terikat di Astra for at least 3 tahun. Jujur aja, Astra bukan perusahaan yang mendukung untuk S2. Kalau mau ya monggo as long as kerjaan aman, tapi kalau berharap dibayarin atau mau unpaid leave hmm sepertinya sulit :') But then do I regret? No. Not at all. Saya akhirnya paham wajar aja kalau Astra nggak fokus ke sana, since Astra punya sistem pengembangannya sendiri yang udah banyak jadi benchmark perusahaan lain. I learn so much. I meet so many inspiring people. I make friends with so many great people. Dan rasanya superasik untuk finally mengerti aplikasi riil semua teori-teori yang saya pelajari.. bahkan seringkali teori itu sendiri di-challenge pada praktiknya :)
  
Many people don't understand why I only applied for MT program, which is harusnya saya udah tau dari awal pasti ada ikatan dinas sekian tahun dan penalti kalau mau keluar.. Gimana mau sekolah lagi gitu kan. Actually I don't either :") Tapi setelah saya renungkan, hal yang paling saya cari adalah kesempatan to grow as a person. Saya tidak ingin bekerja untuk sekedar cari duit dan ujung-ujungnya terjebak rutinitas tanpa bisa berkembang.. ujung-ujungnya melenceng jauh tujuan awal saya bekerja, yaitu untuk menemukan bidang apa yang selanjutnya mau saya fokuskan dan dalami.

If you ask me whether I still want to get master degree or to teach, well of course.. of course I do. Just not for now. Saya ingin sekolah karena saya butuh ilmunya, bukan sekedar cari titel master. Problematika jaman sekarang nih, efek banyak beasiswa menjamur banyak orang merasa S2 itu harus.. apalagi dengan mindset bisa sekalian ke luar negeri gratis. The more people I meet, yang saya amati ternyata S2 tidak selalu membuat kapasitas berpikir seseorang menjadi lebih besar. Memberikan ilmu lebih dan mengasah otak ya, tapi semua balik lagi ke individunya (#teamnature haha). S2-nya di mana dan sedalam apa belajarnya juga pasti hasilnya akan beda.

Soon as I'm ready I will go back to uni. Then later, saya ingin jadi dosen yang mengerti aplikasi lapangan seperti apa, bukan sekedar bacain teori dari textbook. Sekedar ngasih tugas then tau-tau keluar aja nilainya tanpa mahasiswa tau mana yang sudah baik atau perlu diimprove. But to be that teacher who can teach others to love to learn (tinggi amat ya mimpinya, tapi aminin aja lah ya wk). So maybe it's true that I would follow my dad's path.. to become a lecturer, yang memulai karir sebagai praktisi.☺

Intinya, mau S2 langsung ataupun kerja dulu.. You decide. Both have plus minus kok. Hehe. Kalau memang sudah tau mau berkarir di dunia akademik mungkin baiknya langsung, tapi kalau memang ingin jadi praktisi (atau mengajar sebagai pro) I think having work experience at first can give such a big advantage. You are always free to choose, but you always have to take the consequences. Nothing is free in this life, dear.


AB

Senin, April 24, 2017

Some Things

Some words, should be left unspoken.
Some stories, are better left untold.
Some thoughts, should not be put forward.
Some feelings, are not meant to be felt.
Some lives, are not meant to be lived.


AB

Jumat, November 04, 2016

Kita dan Persepsi

I'm back!

Alright. Almost 13 months without any post..
It's kinda sad but hopefully I can write better now, since I am officially a bachelor of psychology.

Hahaha, bercanda ah guys.. :")

It's simply because I found nyatanya setelah lulus hidup tidak menjadi lebih menyenangkan apalagi mudah. Dan, menjadi seorang sarjana tidak serta-merta membuat saya menjadi dewasa, apalagi merasa lebih berilmu dari yang belum lulus ataupun yang belum berkesempatan untuk kuliah. Lagian juga it is already sooo basi. Saya sidang pertengahan Juni dan resmi diwisuda akhir Agustus lalu. Manisnya hari-hari menuju wisuda setelah lepas dari skripsi usai sudah, digantikan oleh fase kehidupan fresh graduate yang untuk menjelaskannya dibutuhkan satu post tersendiri. Coming soon yah :p

Yang menggelitik saya untuk kembali menulis lagi adalah tanggal hari ini. 4 November 2016. Seperti yang kita semua tau, while saya menulis ini ada demo yang berlangsung terkait kasus dugaan "penistaan" agama oleh Bapak Gubernur DKI Jakarta. Tumben nggak sih, seorang Azka sampai mau nulis tentang hal kayak gini? Haha awalnya saya sebel sih karena gara-gara demo ini saya jadi dilarang datang ke pameran pendidikan. Ya walau ini katanya aksi damai saya nurut aja deh sama orangtua daripada ada apa-apa di jalan. Saya berharap semoga nggak ada huru-hara hari ini since mama papa saya tetap masuk kerja dan nanti malam juga Paragita akan melaksanakan konser tahunan.. best luck for you all dear choristers!

Kenapa "penistaan" pakai tanda kutip? Karena kepo, beberapa waktu lalu saya coba mendengarkan pidato Pak Ahok secara lengkap. And.. I honestly don't find it as "penistaan" or anything close to it. Saya merasa maksud Si Bapak bukan untuk melecehkan.. But on the other side, saya juga tidak menampik bahwa kalimat yang diucapkan beliau ambigu dan dapat diartikan berbeda. Even though at the end, makna sebenarnya cuma beliau dan Allah yg tahu..

This is what's interesting about human mind, how we perceive something always depends on our prior knowledge and experiences.

Sedikit oot ya btw. Waktu dulu saya exchange, saya dihost oleh keluarga multiras dan multikeyakinan: dad orang kaukasian dan mom orang Filipina. Dad percaya Tuhan tapi tidak dalam konteks agama dan mom adalah seorang Christian. Seumur saya tinggal bersama mereka, if I am not mistaken, mereka tidak pernah pergi ke gereja (kalaupun pernah mungkin bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, can't remember). Even so, Christmas and Easter tetap menjadi hari yang ditunggu-tunggu banyak orang, including keluarga semang saya, dengan penuh excitement. 

Bingung ya ini arahnya ke mana? Hahaha. Singkat cerita, selepas exchange, buat saya mengucapkan selamat natal dan selamat paskah ke teman-teman menjadi hal yang biasa saja. You know, simply karena saya punya prior experiences yang membuat saya mengasosiasikan natal dan paskah dengan vacation, school break, party atau sekedar kumpul bersama keluarga, juga tradisi-tradisi fun seperti "menanti kado dari santa" dan anak-anak yang excited mencari Easter egg. Sesederhana untuk berbagi kebahagiaan yang juga saya rasakan ketika teman-teman nonmuslim saya mengucapkan selamat Idul Fitri dan hati-hati selama mudik :)

Sedihnya, ada orang-orang yang nggak punya enough gut untuk ngomong langsung tapi memilih untuk nyindir-nyindir di sosmed bahwa mengucapkan sama dengan merayakan dan merayakan sama dengan mengimani. Mengimani ajaran agama lain lalu saya tanpa sadar menjadi what so called orang "kafir". Pertanyaan saya, sejak kapan sih bermain sindir di sosmed bisa menghasilkan output positif? I simply believe that God knows everything, even the deepest of our hearts so I don't bother. I don't see that need to explain anything while they don't even give an ear.

Dulu saya memandang mereka sebagai orang menyebalkan berpikiran sempit. Tapi sekarang saya paham bahwa prior experiences saya dan mereka simply berbeda, which eventually membentuk persepsi yang berbeda. Bahwa perbedaan sangat wajar terjadi.. tidak terhindarkan, bahkan. Finally saya bersyukur bahwa saya diberi kesempatan untuk tinggal di negara lain dan memperluas pola pikir saya. Living in another kind of diversity. Memiliki teman dan keluarga dari berbagai latar suku, kebangsaan, dan agama yang saya kagumi.

Juga kesempatan mempelajari ilmu psikologi yang membuat saya belajar bukan untuk menyebutkan apa yang benar dan salah, tetapi melihat bagaimana tindak-tanduk manusia bisa dipahami, meskipun tidak selalu sejalan dengan apa yang kita yakini. Biarlah orang lain membenci, setidaknya saya belajar untuk tetap menghargai.

Balik lagi ke masalah "penistaan". Saya pribadi berpendapat sama dengan orang-orang yang menyimpulkan kalimat Pak Ahok sebagai "jangan mau terpengaruh oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan agama dalam perkara politik". Menurut saya sih, seperti tidak perlu mengangkat isu SARA untuk menjatuhkan lawan instead of mengedepankan proker yang bisa membuat masyarakat memilih berdasarkan kualitas. Beliau juga sudah meminta maaf dan melakukan klarifikasi dengan menjelaskan apa alasan beliau berkata seperti itu, yang beliau refer ke pengalaman semasa kampanye di Belitung Timur dan percakapan dengan Gusdur.. yaitu penegasan bahwa tidak perlu memilih beliau jika itu memang yang diyakini seperti itu. Monggo googling yang belum lihat.

Sebelum menyebutkan surat Al-Maidah beliau konteksnya lagi bahas proker dan menyentil pilkada kan. Saya melihat beliau memulai dengan mengucapkan salam. Pengetahuan agama saya memang belum ada apa-apanya, tapi setahu saya even seorang nonmuslim kalau memberi salam wajib dibalas dengan baik karena itu adalah bentuk penghormatan terhadap kita. Beliau membahas program-program yang diperuntukkan untuk rakyat dan tidak segan untuk mem-PHK PNS nakal. Sebelum sampai ke menit 19.12 yang jadi perkara itu, beliau sedang membicarakan bahwa jangan khawatir proker ini terhenti karena beliau masih menjabat sampai Oktober tahun depan. Beliau juga menambahkan setelahnya bahwa hak tiap orang untuk memilih atau tidak memilih beliau kembali.

Saya kira tidak jauh berbeda dengan masalah pemaknaan hari natal dan paskah tadi, pro dan kontra terhadap kalimat Pak Ahok ini juga dipengaruhi prior knowledge dan experiences tiap orang. Pemaknaan terhadap jabatan "gubernur" saja sudah berbeda-beda. Untuk orang-orang Islam yang memaknai gubernur sebagai pemimpin, jelas menganggap memilih Ahok sebagai haram. Mungkin mendengar hal ini, menjadi lebih reaktif. Yang memaknai gubernur sebagai pelayan masyarakat tentu berbeda anggapannya, begitu juga yang meyakini kata "awliya" dengan makna selain pemimpin. Bukankah keberagaman keyakinan terhadap terjemahan teks Al-Quran juga merupakan suatu hal yang perlu dihormati?

Saya sendiri berasal dari keluarga yang moderat dan saya bukan warga DKI. Tapi sebagai commuter yang sering lalu lalang di DKI, anak dari orangtua yang bekerja di DKI, dan sering berinteraksi dengan orang DKI saya melihat perubahan yang nyata di masa beliau menjabat. Saya cukup banyak bertukar pikiran dengan orang dan kesimpulan yang saya dapat so far, yang menjadi fokus memang kualitas calon.. bukan masalah tidak membela agama. Kalau ada calon yang beragama Islam dan kinerjanya sudah terbukti bukan janji-janji, kemungkinan besar beda cerita kok. Hehe. Sayangnya seems so far belum ada..

Ah, sudahlah. Nanti saya dinyinyirin dan dituduh macam-macam lagi. Hahaha.

Tapi walau bagaimanapun, saya menyayangkan Pak Ahok harus mengatakan kalimat yang terdengar ambigu tersebut. Beliau kurang berhati-hati dalam menyampaikan hal yang sensitif dibahas di sini: agama. Ceplas-ceplos dan kerasnya beliau sangat berguna untuk mengurusi Jakarta yang literally "tempat yang keras", namun untuk penyampaian ke masyarakat rentan sekali dipelintir dan dijadikan senjata untuk menyerang balik beliau. Sayang sekali. Beliau sudah meminta maaf dan meluruskan saja masih didemo, bukankah tanpa demo kasus ini memang sudah akan diusut? 

Jadi saya tidak membela siapa-siapa. Saya tidak menyalahkan siapapun yang menyatakan rasa marahnya terhadap kalimat Pak Ahok. Seminggu yang lalu saya juga habis bertengkar dengan si kakak dan ceritanya mirip dengan kasus ini. Saya marah karena dia mengatakan sesuatu yang sensitif, walau dia tidak berintensi untuk menyakiti. Apakah hikmah yang bisa diambil seperti kata pepatah "forgiven but not forgotten"? Saya sendiri adalah orang yang sulit untuk lupa.. but of course it's not that. Saya belajar untuk tidak melulu fokus pada pahitnya penyampaian, dan lebih tenang untuk melihat makna yang tersembunyi lebih dalam. Seperti dia belajar bahwa di balik reaksi yang sebegitunya, ada alasan. Sama seperti dinamika dalam hubungan yang saya harap bisa mendewasakan instead of menjauhkan, I wonder bisakah saya berharap dalam kasus ini juga begitu?

Supaya semua orang, tak cuma Pak Ahok, bisa lebih hati-hati. Mulutmu, harimaumu. Suka tidak suka, sadly, SARA masih sering dijadikan alat pemecah belah bangsa. Basi banget emang, mengingat seorang muslim sudah bisa diterima menjadi walikota London dan seorang kulit hitam bisa menjadi presiden Amerika. Walau isu SARA kayanya emang nggak akan bisa 100% hilang ya since judgement adalah bagian tidak terpisahkan dari manusia selaku makhluk sosial. Saya akan sangat menyayangkan kalau karena ini beliau tidak bisa mencalonkan diri kembali. Bukankah kita sudah lelah dengan janji-janji, juga lelah melihat yang terlihat beradab dan berpeci ternyata juga korupsi? Hanya mungkin untuk orang Indonesia yang terbiasa basa-basi, sebatas berkata-kata manis masih identik sebagai "akhlak" yang dijunjung tinggi.

Lagi-lagi soal prior experience, saya sendiri punya pengalaman buruk dengan orang yang saya kira teman, yang di depan saya baik hati tapi di belakang ngomongin. Bersyukur selama kuliah teman-teman saya kebanyakan ceplas-ceplos dan ngomongin di depan. Kadang nyelekit, tapi itu tulus dan jujur. Mungkin itu yang membuat saya "terkesan membela" orang yang ngomongnya nyablak daripada manis-manis di depan tapi ternyata menusuk dari belakang.

Saya juga berharap lebih banyak orang Islam yang menonjolkan Islam itu damai, bukan senggol bacok atau anarkis. Sesederhana berkomentar dengan sopan di media sosial. Saya heran sekarang "demo" di dunia maya kok jadi nggak kalah mengerikan daripada di dunia nyata -_- Sebaliknya, untuk yang beragama selain Islam saya harap untuk tidak menggeneralisasi. Menunjukkan kita bukan lagi jadi alay-alay baru kenal demokrasi tapi sudah mulai menyeimbangkan keberanian bersuara dengan kedewasaan berpikir dan kemampuan toleransi.

Kita tidak mungkin selalu sependapat dengan orang lain dan tidak akan pernah bisa. Tapi bagaimana menyikapi perbedaan yang jadi poin utamanya, bukan? Kayaknya ini kalimat klise yang orang sering lupakan.

Berikut beberapa komentar di media daring yang menggelitik saya, am sorry I picked randomly from what I read:
1. "Ini bukan soal politik, tapi soal harga diri dan agama." Ya. Tapi nyatanya ada yang memanfaatkan isu ini untuk tujuan politis.
2. "Kaum minoritas jangan sok merasa tersakiti, Islam yang menjadi minoritas di negara lain banyak yang lebih tersakiti!" Hmm, apa cuma saya yang gagal paham apa hubungan kondisi orang Islam di negara lain dengan non-Islam di Indonesia? Komentar kayak gini nih yang spreading hatred bukannya meredakan dan mengembalikan fokus ke topik awal.
3. Saya lupa persisnya tapi intinya "pemerintah dan aparat jangan antipati dengan pendemo, kecuali kalau pendemo diserang duluan wajib membela diri". Ya pendemo juga harus kooperatif dong. Aparat tetap warga negara dan manusia biasa, walau terluka itu resiko pekerjaan, mereka juga punya keluarga yang menunggu mereka pulang utuh dan nggak kurang suatu apa. Hahah bukan karena pacar saya, nggak suka aja kalo aparat bergerak langsung dibilang macem-macem (padahal pasti sifatnya reaksi dari suatu pemicu) tapi kalau terluka dianggap "sudah resiko" -_-

Mungkin sebentar lagi saya lagi-lagi dihakimi. Apalah yang bahkan belum syar'i sok berkomentar begitu begini? Tapi yang saya yakini, Allah yang lebih dekat dari pembuluh nadi jauh lebih mengetahui hati daripada makhluk yang cuma bisa menerka dan berasumsi. Dan mengingat waktu kita yang terbatas di dunia ini, in my humble opinion, membenahi diri sendiri jauh lebih penting dari mengoreksi orang lain ke sana ke mari. 

Wallahualam. Semoga Allah menunjukkan yang benar dan yang salah serta mengampuni seluruh dosa kita. Aamiin.


AB

Selasa, Oktober 13, 2015

Something I Don't Even Know

Do you ever feel empty?
Do you ever feel like missing something you just don't know?

Do you ever feel lost?
Do you ever feel like escaping reality?


AB